Selama ini kita mengenal sumur Zamzam dari buku-buku agama. Namun sebenarnya ada sisi ilmiah saintifiknya juga looh. Cabang ilmu geologi yang mempelajari tentang air adalah hydrogeologi.
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 23 November 2011
Fakta Unik Sumur Zam - Zam
Selama ini kita mengenal sumur Zamzam dari buku-buku agama. Namun sebenarnya ada sisi ilmiah saintifiknya juga looh. Cabang ilmu geologi yang mempelajari tentang air adalah hydrogeologi.
Kamis, 17 November 2011
Asal Usul Minuman Teh

Asal Usul Minuman Teh – Bangsa telah minum teh selama 5.000 tahun. Asal mula teh pada awalnya masih merupakan legenda . Legenda yang paling terkenal adalah cerita tentang Kaisar Shen Nung (diucapkan: ‘Shay-Nung’). Penemuan teh olehnya belum ditempatkan secara tepat dalam sejarah, yaitu pada tahun 2737 Sebelum Masehi.
Selama ribuan tahun, bangsa China meminum teh untuk kesehatan dan kenikmatan. Tidak seorangpun tahu apa yang menyebabkan mereka tertarik dengan daun hijau serta mengkilap dari Camellia sinensis , tetapi legendapopuler dapat memberi pengetahuan kepada kita.
Pada suatu hari, ketika Kaisar Shen Nung akan mengambil air mendidih, beberapa daun dari pohon yang menjuntai tertiup angin dan jatuh di panci berisi air mendidih tersebut. Sang Kaisar ingin tahu dan memutuskan untuk mencicipi air rebusan yang tidak menyerupai minuman tersebut. Kaisar menemukan air rebusan itu sedap dan menyegarkan tubuh.
Legenda dari India menghubungkan penemuan teh dengan biarawan Bodhidharma. Sang biarawan sangat kelelahan setelah mengakhiri pertapaannya selama 7 tahun. Dalam keputusasaan dia mengunyah beberapa daun yang tumbuh didekatnya, yang dengan serta-merta menyegarkannya kembali.
India saat ini merupakan penghasil teh terbesar di dunia, tetapi tidak ada catatan sejarah mengenai minum teh di India sebelum abad kesembilan belas. Eksperimen dari Bodhidharma mengunyah teh tidak pernah disebarkan kepada masyarakat umum pada saat itu.
Mitologi lain dari Jepang mengenai biarawan yang bertapa, Bodhidharma, menjelaskan bagaimana ia membuang kelopak matanya yang berat ke tanah karena merasa frustasi tidak mampu untuk tetap terjaga. Pohon teh tumbuh di mana ia membuang kelopak matanya. Dedaunan dari pohon yang baru tumbuh ini secara ajaib menyembuhkan kepenatannya.
Teh bukan asli dari Jepang, maka mitologi ini tidak memberikan penjelasan untuk keberadaanya secara mendadak di Jepang. Realitanya kurang beragam: di awal abad kesembilan, seorang biarawan dari Jepang yang pulang dari pengembaraan, bernama Dengyo Daishi membawa biji tanaman teh dari Tiongkok.
Metode pembuatan teh dengan panci terbuka yang diperkenalkan oleh Kaisar Shen Nung terbukti setelah sekian lama waktu berjalan. Hal tersebut membutuhkan waktu 4.000 tahun sebelum metode pembuatan teh yang kita kenal sekarang dikembangkan.
Pada masa Dinasti Ming (1368-1644), bangsa Tiongkok mulai membuat teh dengan air mendidih. Dengan sedikit adaptasi, tempat penuang anggur tradisional dari Tiongkok yang menggunakan penutup menjadi teko teh yang sempurna.
Pengertian “Teh”
‘Teh’ dengan segala variasinya di dunia dalam pengejaan dan pengucapan berasal dari sumber tunggal. ‘ Te ‘, berarti ‘teh’ dalam dialek China Amoy. Bahasa China nasional dari kata teh, ‘ cha ‘, juga menghasilkan beberapa turunan kata lain di dunia.
Teh masuk ke Eropa pada awal abad ketujuhbelas. Dibandingkan kelebihan teh dalam hal pengobatan, bangsa Eropa lebih memilih aroma kopi. Hanya diantara beberapa golongan kecil dari kaum bangsawan, yang mempopulerkan teh.
Masuknya Teh Ke Eropa
Pada awal abad ketujuh belas, pedagang dari bangsa Belanda dan Portugis pertama kali memperkenalkan teh ke Eropa. Pedagang Portugis mengirimkan dengan kapal dari pelabuhan China, Macau, sedangkan pedagang Belanda membawanya dari Indonesia ke Eropa.
Minuman baru yang datang bersamaan dengan muatan sutera dan rempah-rempah ini tidak mengalami sukses dalam sekejap. Bangsa Eropa mencicipi teh, tetapi mereka lebih memilih aroma kopi. Sedangkan pedagang Inggris menunggu hingga tahun 1652 sebelum akhirnya mulai memperdagangkan teh.
Bangsa Rusia merupakan penggemar awal teh. Teh yang mereka konsumsi datang melalui jalur darat dari Cina menggunakan kereta yang ditarik oleh unta. Ketika penggemar teh di Rusia meningkat, barisan unta yang membawa teh semakin memanjang.
Pada akhir abad kedelapan belas, beberapa ribu kereta yang ditarik unta, kira-kira 200-300 kereta pada satu saat menyeberangi perbatasan China. Jalur kereta api lintas Siberia menggantikan kereta yang ditarik unta, tetapi perjalanan romantik tersebut menyisakan ingatan yang popular atas campuran lembut teh hitam Chinayang terkenal sebagai Karavan Rusia.
Kemajuan Teh Melalui Kerajaan
Pada abad ketujuhbelas di Eropa, tak satupun yang menolong penjualan teh selain pelanggan dari keluarga kerajaan.
Acara minum teh menjadi istimewa pada tahun 1662, ketika Raja Charles II dari Inggris menikah denganCatherine dari Braganza, seorang putri berkebangsaan Portugis dan seorang penggemar teh. Catherinemengawali tradisi minum teh dalam istana, dengan menggunakan mangkuk dan teko teh transparan buatanChina – dan segera para anggota istana lain mengikuti caranya.
Pada saat itu harga teh dinilai mahal, namun sekarang sudah menjadi umum. Seketika teh menjadi mode dan eksklusif. Menurut sudut pandang kaum bangsawan, hal tersebut merupakan sesuatu yang menarik.
Pada abad ke-17, di Eropa, teh merupakan produk praktis yang memiliki kegunaan besar. Kebanyakan air tidak layak diminum. Bagi yang ingin menghindari penyakit, pilihan yang ada tidak membangkitkan semangat: secangkir air mendidih, atau bir yang cukup kuat untuk membunuh bakteri.
Di Inggris dan beberapa negara, dimana bir adalah minuman yang umum untuk sarapan, teh menjadi altenatif lain yang disambut baik. Pada akhirnya teh menjadi pemuas dahaga yang hangat dan menyegarkan, penuh rasa, dan aman untuk diminum.
Pada abad ke-18, di keluarga kaya, minum teh merupakan acara dalam perayaan besar. Daun teh yang bernilai tinggi seringkali disimpan dalam kotak penyimpanan yang berkunci, dimana hanya ada satu kunci.
Sekali atau dua kali dalam seminggu, nyonya rumah akan membuka kuncinya dan menghidangkan teh untuk suguhan dalam keluarga, atau untuk memberi kesan pada tamu istimewa.
Teh disajikan dengan porselin yang memiliki mutu baik, yang menandakan tingkat kekayaan, selain untuk menambah arti dari perayaan. Hal ini juga merupakan kesempatan bagi para wanita untuk memamerkan kulit mereka yang pucat dan struktur tulang yang lembut dibandingkan porselin China. Dua atribut ini merupakan tolok ukur kemurnian seorang wanita pada saat itu.
Kehidupan sosial pada awal pertengahan abad ke-18 beralih dari kebiasaan seperti kedai kopi digantikan dengan kebun teh. Kebun teh menjadi seperti surga: pohon-pohon di tepian jalan, lentera yang menerangi jalan setapak, musik, tarian, kembang api, dan makanan enak ditemani dengan secangkir teh yang nikmat.
Kebun teh tidak hanya tempat yang menyenangkan, tetapi juga merupakan tempat untuk pertemuan sosial. Di tempat eksotis ini, keluarga kerajaan dan rakyat biasa dapat berjalan bersama.
Konsumsi teh meningkat secara dramatis selama awal abad ke-19. Mode dan penurunan harga membangun pasar yang sulit dipenuhi oleh para pemasok barang. Untuk menerobos monopoli dari China, perdagangan teh beralih ke India untuk mengisi kesenjangan.
Masuknya “Teh” Ke India
Ketika konsumsi teh meningkat pada awal abad ke-19, Perusahaan India Timur mencari sumber persediaan baru. Sejak bangsa China memonopoli penamanan teh, solusinya adalah dengan menanam teh dimana-mana.
Percobaan pertama dengan bibit teh dari China dikelola di Assam, timur laut India. Tetapi eksperimen ini tidak berhasil, meskipun bibit yang sama tumbuh dengan baik di Darjeeling, India bagian utara.
Kemudian pada tahun 1820, para ahli tumbuh-tumbuhan menemukan tumbuhan lokal yang belum teridentifikasi. Mereka mengirim contoh daun ke London untuk dianalisis. Contoh daun tersebut dengan segera dikenali sebagai teh – tanaman yang pada mulanya tidak dikenal di India – kemudian lahirlah industri teh India.
sumber: http://palingseru.com/6252/asal-usul-minuman-teh
Sabtu, 12 November 2011
ARSITEKTUR IMAH SUNDA
BUBUKA
Upama urang miang ka Bali, Toraja, Minangkabau, Batak atawa Irian, kalawan gampang urang bisa ningal imah atawa wangunan anu has daerahna. Malah hal ieu jadi ciri mandiri (trade mark) pikeun daerahna masing-masing. Bangsa asing nu datang ka Indonesia, kacida katajina ku rupa-rupana arsitektur imah nu aya di Indonesia.
Naha ari Tatar Sunda mibanda arsitektur imah?
Tangtu aya jeung miboga wangun imah anu ngabogaan ciri khas Tatar Sunda, saupamana wae ti mimiti imah anu pangsaderhanana tepi ka anu cukup rumit nyieunna. Conto wangunan moderen anu dasar arsitekturna ngagunakeun arsitektur Sunda pangpangna wangun suhunanana, di antarana suhunan Kampus ITB jeun sabagian suhunan Gedong Sate. Wangunan Pendopo Kabupaten Bandung jeung sababaraha Wangunan Pendopo anu aya di Tatar Sunda mah ilaharna ngagunakeun suhunan anu ngajadi ciri Wangunan Arsitektur Imah Sunda.
SAWATARA TEMPAT ANU MASIH KENEH AYA IMAH ARSITEKTUR SUNDA
Upama dipapay leuwih jauh conto arsitektur nu asli Sunda tur dina wangunan nu masih keneh saderhana, nya eta wangunan imah di:
- Baduy (Banten Kidul)
- Kampung Naga (Tasikmalaya)
- Kampung Pulo (Garut)
- Kampung Genereh (Sumedang)
- Kampung Palasah (Majalengka)
- Kampung Gabus (Cirebon)
- Baduy (Banten Kidul)
- Kampung Naga (Tasikmalaya)
- Kampung Pulo (Garut)
- Kampung Genereh (Sumedang)
- Kampung Palasah (Majalengka)
- Kampung Gabus (Cirebon)
Di Baduy, Kampung Naga jeung Kampung Pulo, beunang disebutkeun wangunan imah-imahna masih keneh asli tradisional. Tapi di Kampung Genereh, Palasah jeung Gabus mah, ngan kari hiji-dua bae, kitu oge kaayanana geus loba anu ruksakna.
CIRI-CIRI JEUNG FUNGSI ARSITEKTUR IMAH SUNDA TRADISIONAL
Nurutkeun panalungtikan tim ahli anu dijejeran ku Prof. Dr. Kusnaka Adimiharja, Spk, gawe bareng jeung Kanwil Pariwisata Propinsi Jawa Barat, ciri-ciri jeung fungsi imah Sunda teh bisa disawang tina:
- Aspek Sosial Budaya jeung Arsitektur
- Ciri Wangunan anu Has
- Aspek Sosial Budaya jeung Arsitektur
- Ciri Wangunan anu Has
Kateranganana upama dipedar leuwih jelas mah kieu:
Aspek Sosial Budaya jeung Arsitektur
Keur urang Sunda, imah teh lain ngan ukur pikeun tempat cicing, atawa tempat istirahat wungkul, tapi oge boga harti anu leuwih lega, nyakup sosial, ekonomis jeung jadi puseur atikan budaya kaasup pendidikan moral, sarta dianggap suci (sakral). Nya di jero imah pisan tumuwuhna hubungan sosial (sosialisasi) anggota kulawarga. Di imah pisan tempat migawe hal-hal nu sipatna ekonomis (home industri). Di imah pisan hal-hal nu tumali jeung atikan kabudayaan ku indung-bapa diajarkeunana ka anak-anakna. Kitu deui imah teh dianggap suci (sakral), disaruakeun jeung alam mikro (bumi sok disebut imah), nu dianggap miniaturna tina makro (dunya = anu oge disebut bumi). Jadi bumi (imah) teh dianggap sarua jeung bumi (dunya).
Keur urang Sunda, imah teh lain ngan ukur pikeun tempat cicing, atawa tempat istirahat wungkul, tapi oge boga harti anu leuwih lega, nyakup sosial, ekonomis jeung jadi puseur atikan budaya kaasup pendidikan moral, sarta dianggap suci (sakral). Nya di jero imah pisan tumuwuhna hubungan sosial (sosialisasi) anggota kulawarga. Di imah pisan tempat migawe hal-hal nu sipatna ekonomis (home industri). Di imah pisan hal-hal nu tumali jeung atikan kabudayaan ku indung-bapa diajarkeunana ka anak-anakna. Kitu deui imah teh dianggap suci (sakral), disaruakeun jeung alam mikro (bumi sok disebut imah), nu dianggap miniaturna tina makro (dunya = anu oge disebut bumi). Jadi bumi (imah) teh dianggap sarua jeung bumi (dunya).
Eta sababna upama hiji imah dipake hal-hal nu teu hade atawa dipake hal-hal anu kotor, bakal dianggap ngaruksak kasakralan imah, imahna jadi “sial”. Ceuk urang Sunda mah imah teh mangrupa tempat anu suci nu kudu dijaga kasucianana.
Ciri Wangunan anu Has
Ciri has imah Sunda nyaeta panggung (aya kolongna). Bedana jeung imah panggung seler bangsa sejen (Batak, Dayak, Minangkabau), nyaeta luhurna kolong imah Sunda mah henteu pati luhur (40-60cm), siga kolong imah urang Jepang. Upama aya imah di Tatar Sunda anu lain panggung, tapi ngupuk saperti di daerah Tatar Kaler eta mah pangaruh Budaya Jawa. Hateupna (suhunan) imah di Tatar Sunda rupa-rupa aya Julang Ngapak, Jogo Anjing, Heuay Badak, Jure Limasan jeung Leang-Leang. Di antara nu disebutan bieu anu has Sunda mah nyaeta nu disebut suhunan Julang Ngapak (Sulah Nyanda, Julang Wirangga), ari nu sejenna mah kapangaruhan ku kabudayaan batur (suhunan Leang-Leang kapangaruhan ku Arsitektur Cina, Limasan pangaruh Jawa).
Ciri has imah Sunda nyaeta panggung (aya kolongna). Bedana jeung imah panggung seler bangsa sejen (Batak, Dayak, Minangkabau), nyaeta luhurna kolong imah Sunda mah henteu pati luhur (40-60cm), siga kolong imah urang Jepang. Upama aya imah di Tatar Sunda anu lain panggung, tapi ngupuk saperti di daerah Tatar Kaler eta mah pangaruh Budaya Jawa. Hateupna (suhunan) imah di Tatar Sunda rupa-rupa aya Julang Ngapak, Jogo Anjing, Heuay Badak, Jure Limasan jeung Leang-Leang. Di antara nu disebutan bieu anu has Sunda mah nyaeta nu disebut suhunan Julang Ngapak (Sulah Nyanda, Julang Wirangga), ari nu sejenna mah kapangaruhan ku kabudayaan batur (suhunan Leang-Leang kapangaruhan ku Arsitektur Cina, Limasan pangaruh Jawa).
Ciri sejenna nya eta ayana capit hurang (cagak gunting), nyaeta babagian tungtung hateup (suhunan) anu dirupakeun cagak atawa bisa oge saperti tanduk munding, malah aya anu dibuleudkeun (lingkaran), biasana tina kai, atawa awi anu dibulen ku injuk. Gunana cagak gunting diantarana pikeun nyegah cai hujan bocor ka jero imah, jadi saperti fungsina talang. Jaba ti eta cagak gunting teh dianggap oge ngandung tanaga gaib pikeun nyegah pangaruh negatip.
Ari wangun (bentuk) imah, biasana pasagi panjang. Latena make palupuh awi, bilikna tina awi dianyam atawa ku sasag. Rangkay imah dijieunna tina kai. Make tatapakan tina batu. Rohangan imah dibagi nurutkeun babagian anu husus. Nyaeta bagian hareup tepas (emper) pikeun ngumpulna semah lalaki. Enggon (kamar sare) jeung bagean dapur (hawu jeung padaringan gudang tempat neundeun beas = pabeasan), bagean tukang ieu mah pikeun awewe. Pangpangna padaringan (goah, pabeasan) kacida dilarangna lalaki asup ka daerah eta.
PANUTUP
Konsep Arsitektur imah Sunda nu mibanda konsep dasar nu filosofis, kacida hadena upama bisa ditransformasikeun kana arsitektur imah nu moderen, nu luyu jeung kapribadian bangsa. Tangtu bae kudu diluyukeun jeung kamajuan teknologi bari henteu lesot tina pandangan hirup jeung filsafah kabudayaan Sunda. Saenyana henteu ngan dina arsitektur bae ayana falsafah Sunda teh tapi oge dina aspek-aspek budaya sejenna, upamana bae dina seni Cianjuran, Tari, Penca, Tata Boga (kadaharan), Tata Busana, jeung dina rupa rupa seni budaya sejenna. Urang sarerea, pangpangna para nonoman kudu leukeun neangan pribadi falsafah karuhun urang, sangkan bisa katransformasikeun dina kahirupan moderen. Muga bae pareng kawujudkeun.
(LISDA - sumber diambil dari berbagai literature) dan http://www.sundanet.com
KARAWANG : Saksi Sejarah Perjalanan Peradaban Manusia di Tatar Sunda - Jawa Barat Sejak Awal sampai Masa yang Akan Datang
PURWA WACANA
Berbincang tentang wilayah Karawang, kenangan diajak menerawang ke masa lampau sejak perjalanana peradaban penghuni di Tatar Sunda khususnya dan wilayah Nusantara umumnya mulai menapaki awal perjalanan keberadaanya.
Memang adakalanya berbincang tengtang masa lalu kadang terperangkap pada suasana emosi yang penuh romantisme dan nostalgia. Dan keadaan seperti itu tidak kita kehendaki, dan perbincangan kita tidak mengarah kepada “mimpi nan indah masa lampau”. Dambaan kita adalah firman-Nya, “Bahwa hari esok akan lebih baik dari hari sekarang asal bila selesai satu pekerjaan kita garap yang lainnya. Bukankah disabdakan-Nya pula suatu perubahan hanya dapat terjadi bila kita mau merubahnya”.
Berbincang tentang masa lalu, dalam usaha untuk mencoba mencari “KARAKTER” khas wilayah Karawang dan stakeholders-nya, mungkin perlu dicoba agar kita bisa membangun wilayah tempat kita hidup “lemah cai geusan jadi, sarakan paduriatan” sesuai dengan fitrah Ilahiah dan insaniahnya. Bukankah segala sesuatu akan sejahtera bila lingkungan hidupnya serasi dengan fitrahnya.
Pada saat ini bila kita berkesempatan memasuki kota-kota yang berada di Tatar Sunda - Jawa Barat, yang terasa dan terekam sebagian besar adalah atmosfir kehidupan kota-kota bernuansakan “jaman sekarang” - kota metropolis - yang hampir seragam keadaannya. Kota Karawang pun tidak terkecuali akan menuju kota metropolis, karena secara georagrafis kewilayahannya begitu dekat dengan Kota Jakarta, yang sudah lebih dulu menjadi metropolitan dengan sejumlah permasalahan yang menimpanya.
Permasalahan yang dihadapi para stakeholders di setiap kota besar itu pun hampir seragam pula. Antara lain permukiman kumuh, sampah yang selalu menjadi masalah, perihal air yang semakin mengkhawartirkan baik kualitas maupun kuantitasnya. Ini baru masalah yang berskala fisik, belum lagi masalah kehidupan lainnya yang menyangkut kualitas penduduknya. Kehidupan manusia di kota-kota modern sangat rentan untuk timbulnya berbagai penyakit yang menerpa fisik dan psikis penduduknya sebagai akibat dari polusi, kontaminasi, radiasi, kesibukan, stres, kelelahan, kekenyangan karena serba dimakan, kelaparan dan kurang gizi karena tak teratur makan, kesenangan ragawi tanpa kendali dsb. Keadaan ini bila tidak diantisipasi dengan segera akan terus menurunkan kualitas pembangunan manusia yang sehat sejahtera. Bukankah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Jawa Barat hanya menduduki nomor 17 dari 26 provinsi di bawah IPM Provinsi Papua dan NAD. *)
IPM Kabupaten Karawang pun belum menggembirakan, masih sangat memerlukan kerja keras dari seluruh fihak. Menurut catatan resmi ada enam kabupaten di Prop. Jawa Barat yang IPM-nya masih harus ditingkatkan, yaitu kabupaten : Garut, Karawang, Sukabumi, Cirebon, Majalengka dan Indramayu. **)
Demikian pula yang tengah dialami NKRI dewasa ini, tiga aspek penanda signifikan menginformasikan bahwa dunia pendidikan di negara kita adalah peringkat ke-49 dari 49 negara berkembang, berarti peringkat terbawah. Dalam bidang ekonomi urutan NKRI adalah ke-48 dari 49 negara berkembang. Yang paling memilukan, NKRI adalah peringkat ke-2 negara yang paling korup dari 49 negara berkembang. Mau berkelit bagaimana lagi bagi kita, bila telah demikian nyata keadaannya. ***)
Sumber:
*) Informasi Dinas Tarkim, 6-8-2004.
**) Sosialisasi Konsep IPM dan pemanfaatan dalam Perencanaan Pembangunan. BAPEDA Jabar. 2001.
***) Solihin G.P dalam PR , 16-8-2004.
*) Informasi Dinas Tarkim, 6-8-2004.
**) Sosialisasi Konsep IPM dan pemanfaatan dalam Perencanaan Pembangunan. BAPEDA Jabar. 2001.
***) Solihin G.P dalam PR , 16-8-2004.
RUTR DAN RTRW KARAWANG
Tentulah Pemda Kabupaten Karawang telah mempunyai RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) dan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) yang telah terjabarkan secara rinci. Adapun titik berat kewilayahan agar berhasil adalah kesesuaian rencana dan aplikasinya dengan “karakter sosio-geografis dan budaya setempat” dan pada gilirannya nanti pembangunan wilayah akan bertumpu pada kualitas karakter masyarakat setempat.
Menyimak kontur geografis wilayah Karawang, sebagian besar adalah daerah pesisir dan dataran yang luas terbentang. Maka karakter wilayahnya akan terpusat pada pertanian khususnya sawah dan penangkapan ikan laut (baik nelayan maupun pembudidayaan). Filsafat kehidupan masyarakatnya harus mengacu kepada pemuliaan air dan tanah termasuk pantai dan hutan pantainya (bakau). Kesadaran pemulian tanah dengan memelihara kualitas “hara” yang alami serta pemuliaan air secara kualitas dan kuantitas harus menjadi acuan berkehidupan masyarakat Karawang.
Kini di wilayah Karawang bermunculan industri dalam berbagai skala. Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian serius, yaitu dampak polusi limbahnya yang mungkin akan sangat mempengaruhi kualitas tanah dan air sekitarnya. Kesadaran dari semua fihak untuk menjaga lingkungan hidup dan habitat biotanya perlu ditumbuhkan, supaya terjadi sinergi yang saling menguntungkan tanpa merusak lingkungannya.
WILAYAH KARAWANG SALAH SATU PENANDA SITUS SEJARAH SUNDA
Secara toponimi nama Karawang diperkirakan berasal dari:
- Kata “Karawaan” yang berarti wilayah yang banyak rawanya.
- Ada pula yang memaknai berasal dari kata “Quro-wang” yang berasal dari tempat Syeh Quro (yaitu pasantren yang pertama ada di wilayah Tatar Sunda yang terletak di wilayah Karawang sekarang; salaseorang santri wanitanya adalah Puteri Subanglarang yang diperisteri oleh Prabu Sri Baduga Maharaja/Siliwangi) dan kata “wang = wong, orang”.
- Karawang > dikarawang = tepi kain (selendang) yang diberi ornamen berlubang agar menjadi indah.
Asal kata yang mana yang akan dijadikan acuan, tidak menjadi masalah, semuanya mengandung makna yang positif, misalnya:
- Bila mengacu pada kata Karawang < karawaan, artinya daerah berawa yang tentu tidak akan kekurangan air, filosofi air menjadi acuannya.
- Bila hendak mengacu kepada kata “Quro-wang”. Mengandung makna yang sangat religius, maka sepantasnya wilayah Karawang beserta penduduk dan para pemimpinnya berkualitas akhlak religius (khususnya Islami).
- Bila mengacu kepada kata “karawang” yang berarti ornamen nan indah, tentulah wilayah Karawang harus menjadi wilayah yang indah tertata rapih permukimannya serta indah pula perangai akhlak penduduknya.
Akhir-akhir ini ternyata wilayah Karawang menjadi salah satu penanda awal dari situs kesejarahan/arkeologi di wilayah Tatar Sunda. Eskavasi situs Batujaya dan sekitarnya menunjukkan kualitas “peradaban” yang tinggi pada masanya. Dari wilayah Karawang inilah peradaban Tatar Sunda mulai menyebar ke seantero wilayah Jawa Barat malah melampaui batas wilayah admisnistrasi memasuki wilayah Jawa Tengah.
Sejak ditemukan sekitar tahun 1984 sampai sekarang komplek percandian ini telah mengundang perhatian yang luas dari berbagai pihak untuk melakukan penelitian. Beberapa lembaga resmi yang terlibat secara langsung dalam upaya mengungkap eksistensi situs ini adalah Pusat Penelitian Arkeologi (dahulu bernama Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), Direktorat Perlindungan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Bahkan penelitian yang berkesinambungan telah dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi sejak tahun 1992 sampai sekarang.
Saat ini diketahui bahwa Situs Batujaya merupakan sebuah komplek percandian yang tersebar dalam radius 5 kilometer dan berada sekitar 6 km arah selatan dari pantai utara Jawa Barat. Sampai saat ini telah ditemukan 24 titik lokasi/unur yang diduga mengandung tinggalan arkeologi di dalamnya, 13 lokasi berada di Desa Segaran dan 11 lokasi berada di Desa Telagajaya. ****)
Kesadaran akan sejarah wilayahnya akan memperkuat jatidiri penduduk wilayah tsb. seperti yang dikatakan seorang sosiolog dari Barat yaitu Miland Kundera menyebutkan bahwa “Menghancurkan suatu bangsa hilangkan saja kebanggaan akan sejarahnya”, dengan kalimat lain “hancurnya suatu bangsa bila bangsa tsb tidak lagi bangga akan sejarahnya”. Demikian pula siapa yang tidak mengenal sajak Khairil Anwar “Antara Karawang-Bekasi” yang demikian patriotis. Semoga saja ruh patriotik ini selalu mengalir dalam darah dan nafas penduduk Karawang serta para pemimpinnya. Patriotismee dan kesadaran akan sejarah bangsa sangierlu pada waktuini, ketika rsa nasionalisme murkikir dari reluhatanak bangsa. Pada saat ini begitu banyak anak bangsa yang lebih merasa bangga dengan bangsa dan negara lain daripada negaranya sendiri.
KOTA BANJAR : BANJAR KARANG PAMIDANGAN
Secara administratif kewilayahan dan pemerintahan Kota Banjar belum terbilang lama, baru seumur jagung, tetapi dalam peta sejarah kebudayaan Tatar Sunda, kota Banjar telah terbilang lama dikenal dan dikenang orang.
Penulis sendiri dilahirkan ke Buana Panca Tengah, ini di sebuah kota kecil - Banjarsari - yang tidak begitu jauh dari kota Banjar ini.
Pada awal tahuh 50-an , suatu waktu di satu rumah di daerah Cimenyan dekat “pudunan viaduct”, saya mendengar seorang sesepuh berbincang dengan ayahanda, tentang “Sarsilah Banjar dan Sungai Citanduy” serta beberapa tempat yang dialirinya. Alur cerita dan beberapa pemaknaannya masih ada yang saya ingat. Pada kesempatan sekarang izinkanlah saya memaparkan sedikit tentang yang dibincangkan sesepuh tadi. Dengan harapan pada akhirnya dari esensi yang terkandung dalam cerita ini berkemungkinan untuk dijadikan acuan dan dikaitkan dengan kegiatan kita pada saat ini yaitu “menata ruang dan lingkungan hidup yang humanis harmonis dan religius”.
BANJAR
Menurut kamus Bahasa Kawi-Indonesia, banjar = lingkungan, baris > ber-banjar = berbaris rapih arah ke belakang.
Menurut kamus Istilah Karawitan Sunda, banjar = berurutan dengan teratur > banjar nada = tinggi-rendahnya nada yang berurutan dengan teratur.
Menurut kamus Basa Sunda, banjar = barang, pakarangan.
Menurut kamus Istilah Karawitan Sunda, banjar = berurutan dengan teratur > banjar nada = tinggi-rendahnya nada yang berurutan dengan teratur.
Menurut kamus Basa Sunda, banjar = barang, pakarangan.
Dengan memaknai baik secara kosa kata (etimologi) maupun perlambangan (heurmanetika), ternyata kata Banjar mengandung makna yang sangat positif, yaitu “tempat yang lingkungannya tertata rapi dari sejak dayeuh sampai ke pelosoknya”.
Maka kini pekerjaan kitalah untuk menata kota Banjar sehingga menjadi lingkungan yang rapi, teratur tidak kumuh dan tidak rujit. Kalau keadaannya tidak demikian, maka namanya bukan Banjar lagi. Bukankah kata para ahli “kalemesan budi” sering berujar bahwa setiap “asma harus terwujud dalam af’alnya ” dan itu bisa diartikan bahwa sesuatu “nama” harus tampak dalam fungsi dan realitas aktualnya, aplikatifnya.
Maka kini pekerjaan kitalah untuk menata kota Banjar sehingga menjadi lingkungan yang rapi, teratur tidak kumuh dan tidak rujit. Kalau keadaannya tidak demikian, maka namanya bukan Banjar lagi. Bukankah kata para ahli “kalemesan budi” sering berujar bahwa setiap “asma harus terwujud dalam af’alnya ” dan itu bisa diartikan bahwa sesuatu “nama” harus tampak dalam fungsi dan realitas aktualnya, aplikatifnya.
BANJAR PATROMAN
Nama lain untuk kota Banjar pada masa yang lampau adalah Banjar Patroman. Menurut kajian etimologi, patroman berasal dari kata pataruman < pa-tarum-an = tarum adalah sejenis pohon perdu yang tumbuh di tepi sungai (a.l. Sungai Citarum), daunnya digunakan untuk bahan pencelup kain supaya berwarna biru tua (indigo). Bila diartikan demikian apakah secara fisik di kota Banjar dahulu pernah ada tempat mencelup kain dengan menggunakan daun tarum (Pataruman > patroman). Hal ini perlu ditelusuri keberadaannya. Seandainya bisa dikaji oleh para ahli, berkemungkinan nanti di sekitar kota Banjar akan menjadi salah satu sentra “industri kain” dengan warna-warna khas “banjar-patromanan (gradasi warna hijau sampai biru tua, hejo tarum)”, bukankah Ciamis/Galuh pernah terkenal dengan batik khas Ciamisan yang pernah berjaya pada masanya. (N.B tentu harus industri yang ramah lingkungan)
KOTA BANJAR SEBAGAI GERBANG TATAR SUNDA
Kota Banjar adalah titik transit lalu lintas dari daerah Jawa Barat ke arah Timur. Sebagai kota transito, tentulah pembangunan yang terencana sangat dalam segala aspeknya menjadi salah satu persyaratan yang perlu diutamakan. Tentang hal ini tentulah Pemda Kota Banjar telah mempunyai cetak biru yang perlu kita dukung bersama, agar “cetak biru” tsb bisa terwujud dengan sempurna. Hal ini perlu sosialisasi yang memadai kepada masyarakat. Sehingga semua warga tahu peran yang harus dilaksanakannya.
Selain dari itu Kota Banjar seibarat “pintu gerbang” Tatar Sunda paling Timur/Selatan. Sehingga seyogyanyalah “wajah” kota Banjar mencerminkan karakter masyarakat Sunda yang tertulis dalam setiap logo di setiap kota/kabupaten dan bermuara pada Visi Provinsi Jawa Barat yaitu “dengan Iman dan Takwa menjadi provinsi yang termaju dan terdepan sebagai mitra ibu kota”.
Sebagai kota transito akan semakin berperan besar bila jalan lintas Selatan telah dibuka. Dan ini akan kita alami dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama lagi.
Sebagai kota transito akan semakin berperan besar bila jalan lintas Selatan telah dibuka. Dan ini akan kita alami dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama lagi.
ALAM KORBAN KESERAKAHAN MANUSIA
Dalam mitologi urang Sunda, bentukan alam seperti pohon, gunung, sungai dan lainnya sering dipersonifikasikan sebagai “tubuh manusia”. Hal ini menggambarkan betapa eratnya konsep kehidupan manusia dengan lingkungannya. Sehinggsa sering dikatakan oleh para sesepuh “Diri urang teh nyaeta alam sagir kekembaranana alam kabir. Lamun kualitas ajen diri alam sagir hade - alam kabir oge bakal milu jadi hade. Sabalikna upama kualitas ajen alam sagirna goreng - alam kabirna oge bakal narima balukarna anu goreng. Kitu deui sabalikna alam kabir ruksak, lahir sagir manusa oge bakal kapangaruhan jadi ruksak”.
Konsep kesadaran lingkungan yang begitu harmonis ini kini tidak dihiraukan lagi. Sehingga Seyyed Hossein Nasr seorang sosiolog-religius dari Mesir mengatakan bahwa: Alam telah dijadikan pelacur yang dikuras sampai ketingkat yang paling brutal demi keserakahan manusia (dalam bukunya Antara Tuhan - Manusia dan Alam : 29).
Pada masa lampau, kesadaran kita terhadap alam tidak hanya sebatas hubungan mahluk “natural” saja tetapi juga dimaknai sebagi sumber Keberkahan yang Ilhiah. Jagat raya beserta isinya merupakan keteraturan, keharmonisan yang diciptakan oleh Sang Maha Pemurah dan Pengasih. Tetapi pada masa sekarang kesadaran untuk hidup harmonis dengan lingkungan semakin menipis, maka terjadilah DESAKRALISASI, segala sesuatu telah kehilangan nilai-nilai ke-ilahi-annya.
Desakralisasi inilah yang melanda alam pemikiran bangsa kita, sehingga alam dengan segala isinya diperlakukan dengan semana-mena. Kita tidak faham lagi apa yang diamanatkan oleh Prabu Wastu Kancana dari Kerajaan Galuh (1371-1475 M) yang tertulis pada prasasti Kawali VIII bahwa: “ULAH BOTOH BISI KOKORO” (jangan serakah nanti sengasara).
SELURUH JAGAT RAYA MEMUJI ASMA ALLOH SWT
Di bawah ini saya sertakan terjemah Al-Qur’an dalam bahasa Sunda berbentuk pupuh, yang disebut NUR HIDAYAHAN (Disiarkan melalui Studio RRI Bandung setiap hari pukul 23.30-24.00):
- AL HAJJ. Surat ka-22 Ayat 18
Pupuh Dangdanggula: Bumi alam sadayana wiridan ngagungkeun asma Alloh SWT. - XVII/:22/18
Naha anjeun tacan keneh yakin, saeusina alam jagat raya, wiridan ka Gusti Alloh, ka Alloh nya sumujud, saeusining bumi jeung langit, panonpoe jeung bulan, bentang katut gunung jeung sato anu ngarayap, kitu deui lolobana mungguh jalmi, nyembah Alloh Ta’ala. - XVII/:22/=18
Tapi loba ti antara jalmi, nu geus pasti katetepanana, diajab ku Gusti Alloh, diajab ku Nu Agung, jeung sing saha bae nya jalmi, ku Alloh sina hina, ‘mo aya nu nulung, taya anu ngangkat mulya. Satemenna Alloh sakersa ngajadi, sagala sakersa-Na.
Sumber: NUR HIDAYAH Vol C. Rumpaka : Drs. H.R. Hidayat Suryalaga.
(Makalah disampaikan pada Sosialisasi Bidang Penataan Ruang melalui Aspek Agama dan Budaya. Dinas Tata Ruang dan Permukiman Prop. Jawa Barat, di Banjar, 20-8-2004. Mkl 276)
Referensi pendamping:
- Rintisan Penelurusan masa Silam Sejarah Jawa Barat. Pemda Tk I Jabar. 1983-1984.
- Kebudayaan Sunda, Edi S. Ekadjati. Pustaka Jaya. 1995.
- Kamus Kawi-Indonesia. Prof. Woyowasito. CV Pengarang. Cetakan 2.
- Kamus Bahasa Naskah dan Prasasti Sunda Abad 11-18.Editor.Prof. Dr. Edi S. Ekadjati.
- Kamus Istilah Karawitan Sunda, Atik Soepandi, Skar. Satu Nusa. 1989.
- Kasundaan - Rawayan Jati. Drs. H.R. Hidayat Suryalaga. Wahana Raksa Sunda 2003.
- (http://www.sundanet.com)
Rabu, 12 Oktober 2011
WILAYAH CIAMIS YANG BERINTIKAN GALUH
PURWA WACANA
Semoga Tatar Galuh beserta seluruh para pemimpin dan penduduknya selalu mendapat kesejahteraan seperti yang pernah dialami ketika Sang Prabu Niskala Wastu Kancana (1371- 1475 M) memerintah di negeri Kawali - Galuh.
Untuk memahami seluruh aspek kehidupan Urang Sunda, terutama pada tataran filosofi pandangan hidupnya, tidak akan terlepas dari “lingga-lingga Kasundaan” yang telah dipancangkan para leluhur Galuh - Kawali. Sejak Kerajaan KENDAN yang diawali Sang Manikmaya (536-568M) di kerajaan KENDAN; selanjutnya oleh Sang WRETIKANDAYUN (612-702M) pendiri Kerajaan GALUH sampai dengan SANG PRABU NISKALA WASTU KANCANA (1371-1475 M) dan dilanjutkan oleh cucundanya Sri Baduga Maharaja - Prabu Jayadewata - Prabu Siliwangi - Pamanah Rasa (1482-1521 M).
Di wilayah Tatar Sunda tersebar prasasti-prasasti peninggalan leluhur Sunda. Diantaranya yang sangat menarik minat para peneliti kebudayaan Sunda, adalah prasasti yang ada di Tatar Ciamis, yaitu di Astana Gede - Kawali, Telah banyak pakar filologi, arkeologi dan sejarah yang menekuni situs di Astana Gede, sejak K.F. Holle (1867 M) sampai dengan para sejarawan yang kemudian. Bermacam penafsiran terhadap isi prasasti telah dikemukakan para pakar. Tentu saja apa pun penafsiran yang telah dibuat itu akan berdampak positif bagi keberadaan peradaban masyarakat Tatar Sunda/Jawa Barat.
Penulis berkeinginan benar untuk mencoba menafakuri makna yang terkandung dalam prasasti di Astana Gede ini, khususnya pada prasasti yang pertama dan prasasti kedua (yang baru ditemukan pada bulan Oktober 1996). Asumsi penulis bahwa apa yang ditulis di atas permukaan batu dengan bersusah payah itu, tentulah mengandung maksud dan makna yang sangat dalam. Tentulah berisikan amanat dari para leluhur untuk keturunannya. Apakah esensi nilai-nilai yang hendak diamanatkannya itu? Adapun penafsiran dan pemaknaan yang penulis lakukan berdasarkan kajian “semiotica dan heurmanetica” dalam idiomatik kearfian urang Sunda disebut dengan Panca Curiga (5 senjata untuk memaknai) yaitu analisis berdasarkan Silib sindir, Suluk, Simbul, Siloka dan Sasmita. Oleh karenanya penafsiran bisa sangat subyektif-individual. Walau demikian, semoga saja : “Sasieureun sabeunyeureun aya pimangpaateunana”.
Pun
Seja muka nu dituruban ku mandepun,
dibuka bari ngaliwat,
nu menta dilalakonkeun
Pun sapun.
Seja muka nu dituruban ku mandepun,
dibuka bari ngaliwat,
nu menta dilalakonkeun
Pun sapun.
Prasasti batu yang pertama, terdiri dari 10 baris, ditulis dengan aksara Sunda:
(Sumber acuan adalah wacana dalam Sejarah Jawa Barat Untuk Pariwisata I - Priangan Barat - Priangan Timur - Cirebon. Diperbanyak oleh: Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Jawa Barat. TT. Hal. 42)
(Sumber acuan adalah wacana dalam Sejarah Jawa Barat Untuk Pariwisata I - Priangan Barat - Priangan Timur - Cirebon. Diperbanyak oleh: Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Jawa Barat. TT. Hal. 42)
nihan tapa kawa-
li nu sya mulia tapa bha-
gya parebu raja was-
tu mangadeg di kuta kawa-
li nu mahayu na kadatuan
surawisesa nu marigi sa-
kulili(ng) dayeuh nu najur sagala
desa aya ma nu pa(n)deuri pakena
gawe rahayu pakeun heubeul ja-
ya dina buana
li nu sya mulia tapa bha-
gya parebu raja was-
tu mangadeg di kuta kawa-
li nu mahayu na kadatuan
surawisesa nu marigi sa-
kulili(ng) dayeuh nu najur sagala
desa aya ma nu pa(n)deuri pakena
gawe rahayu pakeun heubeul ja-
ya dina buana
“Inilah (tanda peringatan) pertapa Kawali, ialah yang memperoleh kebahagiaan dari bertapa, Prabu Raja Wastu yang berkuasa di kota Kawali; yang memperindah keraton Surawisesa, yang memperkokoh pertahanan sekeliling ibu kota dengan parit, yang memakmurkan segenap daerah; semoga ada yang (berkuasa) kemudian mengikuti kebajikannya, supaya lama hidup di dunia”
Kata yang penulis tebalkan menjadi penanda/kata kunci dalam perbincangan pada forum yang mulia ini, yaitu:
- tapa > bertapa > pertapa = Untuk masyarakat Sunda lama, pengertian TAPA adalah berkarya/bekerja (lihat Kropak 632 - Naskah Ciburuy, yang menuliskan bahwa …amal itu sama dengan TAPA, buruk amal buruklah TAPA… (Atja & Saleh Danasasmita, 1981:31,38)
- mahayu = memperindah, menyiratkan kesadaran akan lingkungan hidup, tata ruang dan permukiman yang serasi dan indah.
- marigi = membuat parit untuk pertahanan (dan mungkin untuk irigasi, pengairan) sekiling kota. Hal ini pun menyiratkan kesadaran tata ruang dan permukiman serta ketahanan wilayah.
- najur = memakmurkan, mensejahterakan kehidupan penduduk negeri. Hal ini pun berkaitan dengan kesadaran lingkungan hidup.
- aya ma = semoga ada… Frasa wacana ini menyiratkan akan adanya KEKUATAN GAIB yang lebih berkuasa dan menentukan segala sesuatu, dengan penggunaan kata “SEMOGA”. Di dalamnya ada kesadaran religius dan persaaan kerendahan hati.
- pa(n)deuri = yang datang kemudian, baik sebagai pemimpin maupun rakyat seluruhnya. Hal ini menyiratkan adanya kesadaran proses regenerasi dan kaderisasi bagi terwujudnya generasi penerus yang lebih unggul.
- gawe rahayu = mengerjakana kebajikan; mengerjakan sesuatu yang baik sampai tuntas.
- heubeul jaya dina buana = supaya lama dikenang di dunia. Hal ini menyiratkan kesadaran bahwa hanya dengan KERJA (TAPA) yang baik sampai tuntaslah yang akan menyebabkan nama kita dikenang selamnya.
Prasasti batu kedua, terdiri dari 2 baris:
iweu ulah botoh
bisi kokoro
bisi kokoro
“Ingatlah jangan berjudi/serakah, nanti bisa sengasara”
- iweu > ieuh (kata seru, imperatif) = ingatlah, perhatikanlah
- botoh > bobotoh = 1) berjudi 2) serakah 3) memprovokasi
- kokoro = amat sengsara
Bisa dimaknai bila seseorang serakah, tidak hanya dirinya saja yang sengsara, tetapi masyarakat sekitarnya pun akan terimbas kesengaraan tsb. Misalnya saja keserakahan dalam mengeksploitasi lingkungan alam, akan menyebabkan kesengsaraan bagi masyarakatnya.
PUNGKAS WACANA
Ternyata amanat dari Prabu Niskala Wastu Kancana yang telah bersusah payah ditorehkan di permukaan sekeping batu, merupakan filosofi yang mendasari kesadaran hidup yang demikian bernilai. Kalimat-kalimat pendek, yang substansial dan sangat menghargai kualitas manusia yang manggapulia tersiratkan dengan jelas. Isi (GALEUH) dari prasasti inilah yang menjadi PERMATA (GALUH) filosofi wilayah yang kini dinamai Kabupaten Ciamis.
Bahagialah masyarakat Tatar Galuh dan Tatar Sunda/Jawa Barat/NKRI bila mampu mengaplikasikan dan mengaktualisasikannya dalam perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Ternyata amanat dari Prabu Niskala Wastu Kancana yang telah bersusah payah ditorehkan di permukaan sekeping batu, merupakan filosofi yang mendasari kesadaran hidup yang demikian bernilai. Kalimat-kalimat pendek, yang substansial dan sangat menghargai kualitas manusia yang manggapulia tersiratkan dengan jelas. Isi (GALEUH) dari prasasti inilah yang menjadi PERMATA (GALUH) filosofi wilayah yang kini dinamai Kabupaten Ciamis.
Bahagialah masyarakat Tatar Galuh dan Tatar Sunda/Jawa Barat/NKRI bila mampu mengaplikasikan dan mengaktualisasikannya dalam perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Pun
PAKENA GAWE RAHAYU
PAKEUN HEUBEUL JAYA
DINA BUANA
PAKENA GAWE RAHAYU
PAKEUN HEUBEUL JAYA
DINA BUANA
Bandung, 2004
(Disampaikan pada pertemuan di Ciamis bersama Dinas Tataruang dan Permukiman Provinsi Jawa Barat. 2004.)
Sumber Acuan:
- Kebudayaan Sunda. Edi S. Ekadjati. Pustaka Jaya. 1995.
- Kehidupan Masyarakat Kanekes. Sundanologi. 1986.
- Sejarah Jawa Barat Untuk Pariwisata I. DIPARDA Prop. Jabar TT
- Sejarah Jawa Barat. Jilid 4. Prop. Jabar. 1983-1984.
- Kebudayaan Sunda. Edi S. Ekadjati. Pustaka Jaya. 1995.
- Kehidupan Masyarakat Kanekes. Sundanologi. 1986.
- Sejarah Jawa Barat Untuk Pariwisata I. DIPARDA Prop. Jabar TT
- Sejarah Jawa Barat. Jilid 4. Prop. Jabar. 1983-1984.
Langganan:
Postingan (Atom)